SEMARANG,LintasUpdate.id– Penolakan terhadap rencana pengembangan energi panas bumi (geothermal) di kawasan Gunung Ungaran kembali bergema keras. Aksi protes disampaikan secara dramatis melalui aksi long march dan simbol kartu merah di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang, Kamis (24/9/2026).
Salah satu aksi yang paling mencuri perhatian dilakukan oleh Lilik (37), warga kawasan Candi Gedong Songo, Kabupaten Semarang. Ia memutuskan berjalan kaki dari kaki Gunung Ungaran menuju pusat Kota Semarang guna menyampaikan aspirasi secara langsung kepada pemerintah provinsi.
Setibanya di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Lilik tampil mencolok mengenakan pakaian berbahan serat goni. Di tangannya, ia membawa berbagai poster berisi pesan lingkungan yang kuat, mulai dari “Save Ungaran”, “Save Lawu”, “Save Telomoyo”, hingga “Save Slamet”.
Puncak aksi terjadi ketika Lilik mengangkat kartu merah tinggi-tinggi yang diarahkan langsung kepada Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi.
Kartu tersebut merepresentasikan penolakan tegas warga terhadap proyek geothermal yang dikhawatirkan merusak ekosistem lingkungan, mengancam sumber air bersih, serta merampas ruang hidup masyarakat adat dan petani.
“Jawa Tengah ora didol!” seru Lilik dalam aksinya.
Menurut Lilik, pemerintah tidak seharusnya memandang kawasan pegunungan di Jawa Tengah semata-mata dari kacamata investasi dan eksploitasi energi. Aspek keberlanjutan ekologis dan kelangsungan hidup masyarakat lokal yang selama ini bergantung pada alam harus menjadi prioritas utama pengambilan kebijakan.
Ia menegaskan bahwa perjalanan kaki jauh yang dilakukannya bukan sekadar aksi fisik, melainkan seruan darurat agar persoalan lingkungan di Gunung Ungaran mendapat atensi serius dari pemangku kebijakan tertinggi di daerah.
“Harapannya ini juga ditindaklanjuti di Jateng. Jangan hanya saling lempar,” ujar Lilik.
Aksi teatrikal tersebut merupakan bagian dari gerakan masif Aliansi Jateng Guyub. Sejumlah petani dan elemen masyarakat berbondong-bondong melakukan perjalanan dari kawasan pegunungan Telomoyo dan Gedong Songo menuju jantung Kota Semarang.
Koordinator Jateng Guyub, Joko Prianto, menjelaskan bahwa long march ini merupakan bentuk perlawanan kolektif masyarakat dalam mempertahankan ruang hidup mereka dari ancaman proyek ekstraktif.
“Tuntutannya terkait geotermal memang itu kan terjadi saat ini, wacana itu ada di Ungaran dan di Lawu,” kata Joko di sela-sela aksi.
Isu penolakan ini sebenarnya telah lama berakar. Sebelumnya, kekhawatiran warga terhadap ancaman kerusakan lingkungan dan penyusutan sumber air telah disuarakan dalam forum diskusi publik di Kampus FISIP Universitas Diponegoro pada 17 September 2026.
Menanggapi polemik ini, Direktur Panas Bumi Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Priatin Hadi Wijaya, menyatakan bahwa proyek tersebut saat ini masih berada dalam tahap studi awal dan belum menetapkan titik pengeboran definitif.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyatakan bahwa rencana pengembangan geothermal Gunung Ungaran masih membutuhkan rangkaian kajian mendalam, termasuk analisis dampak lingkungan serta sosialisasi persuasif kepada warga.
Gubernur Ahmad Luthfi menekankan pentingnya pendekatan dialog guna menjembatani kekhawatiran warga dengan rencana strategis energi nasional.
(Red)
