BLORA,LintasUpdate.id— Ketua Satuan Tugas Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Blora, Sri Setyorini yang akrab disapa Bude Rini, secara tegas mengusulkan agar satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) Sukorejo 2 ditutup secara permanen.
Langkah tersebut diambil menyusul puncak kasus dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan siswa SMAN 1 Tunjungan pada Selasa (8/9/2026).
Insiden ini bermula ketika para siswa mulai merasakan gejala sakit perut, mual, hingga diare setibanya di rumah sepulang sekolah pada Senin (7/9/2026). Akibat kejadian tersebut, pihak sekolah langsung mengambil langkah cepat untuk menolak distribusi menu MBG pada hari berikutnya.
Saat melakukan peninjauan langsung ke SMAN 1 Tunjungan, Bude Rini mengungkapkan bahwa total ada 133 siswa dan dua guru yang melaporkan keluhan serupa.
"Yang dirujuk ada enam siswa. Tiga sudah pulang, tiga masih di fasilitas kesehatan, dan tiga lainnya dirawat di rumah," ujar Bude Rini di lokasi.
Ia menduga kuat gangguan kesehatan massal tersebut bersumber dari menu makanan program MBG yang didistribusikan oleh SPPG Sukorejo 2 di bawah naungan Yayasan Tirta Mirah Asih.
"(Sumbernya dari MBG?) Yo iya no, lah pie (Pasti itu, mau gimana). Kemarin makan, kemudian pulang di rumah, sampai di rumah de'e (siswa) merasa mual-mual. Tapi kan taunya satu orang, karena berada dirumah. Setelah masuk sekolah tadi, dia baru merasakan sebanyak ini tadi," terangnya.
Terlebih lagi, temuan di lapangan mendapati indikasi kebersihan yang kurang baik serta temuan lauk yang tidak layak pada pengiriman di titik sasaran lain.
"Menunya tempe goreng, brokoli, dan ayam. Tapi dari laporan ada belatungnya lagi, di [Pondok Pesantren] Al-Banjari juga ada belatungnya. Dari kebersihannya saya nilai kurang baik," bebernya.
Bude Rini menegaskan, insiden di SMAN 1 Tunjungan ini merupakan kejadian luar biasa (KLB) kesekian kalinya yang melibatkan SPPG Sukorejo 2, mengingat pihak satgas sebelumnya telah melayangkan dua kali surat peringatan. Kendati kewenangan pencabutan izin berada di tangan Badan Gizi Nasional (BGN), pihaknya tetap mendesak penutupan permanen.
"Kami mau tidak mau mengusulkan tutup. Kalau masalah tutup permanen itu dari pusat, saya dari satgas sini minta tutup! Karena sudah tiga kali," tegasnya.
Selain menuntut penghentian operasional, Bude Rini juga menginstruksikan pihak pengelola agar segera mengembalikan dana yang telah diterima dari BGN kepada pihak berwenang dan kepala sekolah menyusul pembatalan distribusi pasca-kejadian.
(Red)
