Notification

×

Iklan

Iklan

Bupati Arief Rohman Ajak Warga Lestarikan Budaya Lewat Ruwatan Massal 1448 H ‎

13 Juli 2026 | Juli 13, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-13T12:00:12Z


BLORA,LintasUpdate.id– Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora sukses menyelenggarakan Ruwatan Massal Tahun 2026 dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Acara yang memadukan sisi spiritual dan pelestarian kearifan lokal ini berlangsung meriah di Stadium Budaya Tirtonadi, Sabtu malam (11/7/2026).


‎​Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi masyarakat Blora untuk mempererat identitas daerah di tengah arus globalisasi. Sepanjang acara, suasana di Stadium Budaya Tirtonadi tampak semarak dengan penampilan ragam kesenian kebanggaan Blora, mulai dari seni barongan, pertunjukan wayang, hingga tari tayub yang memukau para penonton.


‎​Bupati Blora, Arief Rohman, yang hadir langsung dalam kesempatan tersebut, menyampaikan apresiasi mendalam atas terselenggaranya acara ini. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bentuk ikhtiar bersama dalam menjaga warisan leluhur sekaligus memohon keberkahan bagi daerah.


‎​"Saya mengapresiasi dan berterima kasih atas terselenggaranya Ruwatan Massal 2026 ini untuk nguri-uri (melestarikan) budaya. Ini dimaksudkan sebagai doa bersama agar Blora senantiasa terhindar dari musibah, diberikan kelancaran, kemakmuran, dan menjadi kabupaten yang maju serta berkah," ujar Bupati Arief.


‎​Lebih lanjut, Bupati menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus berkomitmen mendukung pelestarian budaya. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bahu-membahu menjaga kekayaan seni dan budaya yang menjadi identitas kebanggaan masyarakat Blora.


‎Ketua Panitia Ruwatan Massal, Edi Purwanto, mengungkapkan bahwa antusiasme masyarakat pada tahun ini terbilang sangat tinggi. Total sebanyak 40 keluarga sukerta dengan kurang lebih 81 peserta mengikuti prosesi ruwatan ini.


‎​"Peserta terjauh yang hadir langsung berasal dari Yogyakarta dan Pekalongan. Bahkan, terdapat juga peserta yang mendaftar dari Kota Chiba, Jepang, dan Merauke, Papua, meskipun mereka berhalangan hadir secara langsung karena kesibukan," jelas Edi.


‎​Edi menekankan bahwa ruwatan ini bukan sekadar ritual, melainkan upaya spiritual untuk memohon keselamatan serta menjauhkan diri dari sukerto atau sengkala (marabahaya). Pihaknya berharap tradisi ini dapat menjadi agenda rutin tahunan dengan pengemasan yang lebih segar di masa mendatang tanpa menghilangkan esensi aslinya.


‎​"Harapannya acara ruwatan ini bisa dilaksanakan rutinan setiap tahun. Ke depannya bisa dikembangkan dengan lokasi dan kemasan yang lebih menarik mengikuti perkembangan zaman, namun nilai-nilai utamanya tetap terjaga," pungkas Edi.(Red) 

×
Berita Terbaru Update